KABARDEWAN.COM -- Tiap kali ada Pemilu dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), potensi kehadiran bohir selalu ada. Apa itu bohir? Berikut ini pengertian bohir di dunia politik praktis.
Arti bohir adalah pemilik modal atau pemilik proyek. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda, bouwheer, yang artinya kontraktor. Ia berasal dari kata bouwen (membangun) dan heer (tuan).
Dalam dunia politik praktis, bohir bisa diartikan sebagai pemilik modal, termasuk pendukung atau donatur dana kampanye.
Dalam konteks politik, bohir diartikan sebagai pemberi modal untuk biaya kampanye dan sebagainya kepada calon-calon kepala daerah, juga presiden, dan calon anggota legislatif (DPR/DPRD/DPD).
Para pengusaha atau pemodal itu menaruh investasi dengan cara mendanai calon-calon kepala daerah. Imbalannya akan didapat nanti ketika kepala daerah itu terpilih, mereka akan menangguk uang berupa proyek-proyek APBD.
Kolaborasi antara calon kepala daerah dan pengusaha sebetulnya bukanlah fenomena unik di Indonesia saja. Di berbagai negara, transaksi-transaksi di balik layar seperti ini selalu terjadi, termasuk di Amerika Serikat, Eropa, dan di negara-negara mana pun yang menerapkan demokrasi.
Donokrasi menjelaskan keterkaitan erat antara pemberi dana kampanye (donor) dengan calon kepala daerah yang akan bertarung dalam suatu pilihan raya.
Di Amerika, donokrasi dilakukan secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Perusahaan-perusahaan besar memberikan dukungan (pledge) pada calon tertentu untuk mendapatkan kemudahan (atau proyek) jika sang kandidat memenangkan pilihan.
Menurut ICW, umumnya istilah bohir digunakan secara negatif. Bohir adalah rentenir politik yang “meminjamkan” uang ke calon-calon yang akan berlaga kontestasi politik seperti Pilkada.
Begitu vitalnya peran bohir, banyak orang yang percaya bohir adalah penentu keberhasilan seorang kandidat dalam pilkada. Orang yang tak punya bohir bisa dipastikan akan mengalami kesulitan. Jika dia bisa memenangkan pertarungan politik tanpa bohir, itu adalah "mukjizat" yang hanya terjadi pada para nabi.
Fenomena bohir ini melahirkan istilah lain, yakni “bohirkrasi”, sebagai antitesis demokrasi. Pemegang saham terbesar dalam suatu pilihan raya bukanlah rakyat (demos), tapi bohir yang berada di balik setiap kontestan. Rakyat hanya pelengkap atau "dipungut suara" dari pesta yang mengatasnamakan demokrasi itu. (KD2)
Disdik Jabar Berikan Kesempatan Murid Baru Mengikuti PCMB Hingga 11 Juni 2026
4 hari yang lalu
KDM Minta Orangtua Siswa Tidak Perlu Panik, Pelaksanaan SPMB Jawa Barat Baru Tahap PCMB
4 hari yang lalu
Desk Layanan Terpadu SPMB Kota Bandung Selesaikan Kendala Daftar Sekolah
5 hari yang lalu
Pendaftaran SPMB Jenjang SD dan SMP di Kota Bandung Resmi Dibuka, Disdik Ingatkan Oknum Janjikan Bisa Loloskan Masuk Sekolah Akan Ditindak Tegas
5 hari yang lalu